KITA MASIH TERBIASA MENGOBATI DARIPADA MENCEGAH TERORISME YANG DI CIPTAKAN KAUM PEMINUM AIR KENCING ANJING PENDUKUNG JOKOWI AHOK UNTUK MEMFITNAH UMAT ISLAM…

KITA MASIH TERBIASA MENGOBATI DARIPADA MENCEGAH TERORISME…

Permasalahan aksi terorisme di Indonesia ini sudah sejak lama sebenarnya..

Masalahnya adalah kita hanya selalu bertumpu pada aparat untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada. Padahal aksi teroris ini akan banyak teredam jika banyak elemen terlibat dalam pencegahannya..

Aksi teroris dipicu oleh pernyataan2 provokatif dan ajakan2 untuk melakukan aksi dengan sebelumnya terlebih dahulu mengajarkan bagaimana cara melakukan kerusakan. Sesudah itu, bagaimana cara menyebarkan pesan kerusakan sehingga menimbulkan ketakutan..

Dan kunci dari itu semua adalah media komunikasi..

Media2 komunikasi dan chatting seperti Telegram, WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain adalah jaringan komunikasi global para teroris untuk saling bersapa dan melakukan proses cuci otak.

Pemerintah melalui Kominfo seharusnya sejak awal bisa bekerjasama dengan pemilik aplikasi2 luar ini. Jangan rakyat hanya dijadikan konsumen saja, tapi juga keamanannya benar2 dilindungi. Sementara ini Menkominfo masih maen gertak, belum benar2 serius untuk menangani lubang2 ini.

Meski pintu masuk teroris dari luar bisa dibatasi, tapi ideologi2 teroris global masih berkeliaran dengan bebas lewat internet ini.

Elemen lain adalah stasiun televisi..

Stasiun televisi seharusnya mulai membersihkan diri dari produser2 acara agamanya yang terindikasi garis keras.

Televisi punya tanggung jawab sangat besar dalam mengobarkan semangat “merusak atas nama agama” karena mempopulerkan ustad2 yang sangat provokatif. Ada ustad yang berdakwah Indonesia negara taghut, ada yang membenarkan aksi bunuh diri.

Dan bahayanya acara ceramah agama di televisi adalah dia bisa menjangkau daerah2 yang tidak bisa dijangkau internet, sehingga informasi bersifat sepihak.

Jadi stasiun televisi adalah media efektif untuk mencuci otak masyarakat di daerah2. Ditambah dengan pengetahuan agama penceramah yang sangat terbatas sehingga fatwa yang keluarpun instan pula.

Pemerintah harus menekan stasiun televisi untuk melibatkan dua ormas besar agama yaitu NU dan Muhammadiyah dalam acara ceramah agama.

Dan dalam ceramah harus ada penekanan nilai2 Pancasila dan kecintaan pada negara. Kalau perlu, khusus acara agama Islam, harus ada unit khusus yang melakukan filter terhadap pengisi acara..

Jangan dibiarkan hanya mereka yang punya uang yang bisa ada di slot acara. Dana teroris itu besar, mereka sanggup membeli seluruh slot acara agama di televisi untuk menggencarkan propaganda dan program cuci otak mereka.

Dan terakhir adalah elemen masyarakat melalui kelurahan, RT dan RW untuk terus mendata warganya dan menjaga masjid di daerahnya dari ujaran2 kebencian dan provokatif. Kepolisian dibantu TNI harus kembali aktif mengedukasi masyarakat dan sama2 menjaga wilayahnya dari segala kemungkinan tindak terorisme.

Jika tindakan2 ini dilakukan, maka aksi2 teror akan teredam. Karena mereka tidak bisa berinteraksi satu sama lain, bahkan tidak bisa mencuci otak orang awam yang ingin belajar agama. Tugas aparatpun akan lebih ringan..

Orang bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi kita sampai sekarang terus menerus mengobati, karena tidak paham bagaimana mencegahnya..

Semoga kedepan kita bisa lebih baik. Dan jadikan kota Surabaya sebagai ikon perlawanan terhadap terorisme. Karena sesungguhnya Surabaya adalah kota Pahlawan.

Seruputtt..

Denny Siregar
www.baboo.id

Loading...

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *