ADU KEKUATAN DI MEDIA SOSIAL Dari Australia Untuk Membantu Kaum Peminum Air Kencing Anjing Pendukung Jokowi Ahok Untuk Menuduh Umat Islam Itu Radikal Dan Intoleran

Pada waktu wawancara dengan stasiun televisi Australian Broadcasting Corporation tadi, saya menjelaskan bagaimana “perang” di media sosial di Indonesia berlangsung..

Saya sebut itu “perang narasi”, karena masing-masing pihak membangun narasi dengan metode propaganda. Meskipun ada unsur politik – karena negeri ini sedang berada di tahun politik – tapi sejatinya perang narasi itu dilakukan dua kubu yang berbeda, yaiu kubu toleran dan kubu intoleran..

Kubu toleran diwakili para nasionalis yang ingin negeri ini tetap seperti apa adanya sekarang ini, sedangkan kubu intoleran diwakili kaum agamis yang hendak memaksakan bahwa negeri ini kelak harus menjadi negeri berdasarkan agama.

Dan masing-masing kubu berpihak pada koalisi partai politik. Koalisi politik ini hanya sebagai jembatan saja, karena perang sebenarnya ada di pemikiran..

Saya mengungkapkan ada pihak2 yang ingin mengambil brand “Islam dan Ulama” untuk kepentingan kelompok dan politiknya.

Mereka juga membangun narasi bahwa mereka adalah “mayoritas” di negeri ini. Sedangkan yang berbeda dengan mereka dianggap bukan Islam dan bukan ulama dan masuk dalam golongan kafir, meski dia muslim sekalipun.

Perang di media sosial ini diramaikan oleh Influencer dan Buzzer, ini sebutan dan klasifikasi terhadap para pemain di medsos. Influencer adalah mereka yang membangun opini di media sosial, sedangkan buzzer adalah pasukan – yang biasanya dibayar – untuk menyerang ataupun sekedar menshare berita.

Influencer biasanya menulis karena ingin menulis, sedangkan buzzer menulis karena dia harus menulis..

Para pewawancara agak kaget juga melihat bahwa ternyata media sosial di Indonesia sudah masuk wilayah “perang”. Mereka yang di Australia sama sekali tidak menyadari bahwa sudah sebegitu hebatnya bentrokan pemikiran di Indonesia, karena di negara mereka ternyata media sosial tidak sebegitu berpengaruh dalam pembentukan opini.

Mengasyikkan memang berkecimpung di media sosial, yang ternyata sudah berkembang bukan lagi menjadi penyampai informasi dan komunikasi, tetapi sudah mengarah pada pembentukan opini..

Saya sudah mulai melihat arah perang narasi yang dilancarkan lawan ketika Arab Spring menjatuhkan Tunisia dan Mesir, juga Suriah.

Dan sejak 2011, saya mulai membangun narasi-narasi supaya jangan ada pihak-pihak yang ingin membangun apa yang mereka namakan revolusi di Indonesia ini. Cukuplah peristiwa 1998 sebagai peringatan, jangan ada lagi..

Tanggal 7 Juni ini saya ada di Surabaya, sekaligus nonton bersama film tentang Pancasila berjudul “LIMA”. Kalau sempat datang dan nonton bersama, karena peranf narasi ini sudah berkembang bukan hanya di media sosial tetapi sudah merambah ke dunia layar lebar..

Kita harus mendukung sineas2 dalam melakukan perlawanan terhadap kaum intoleran supaya negeri ini tetap seperti adanya. Perlawanan kita bukan melalui pedang atau senjata lainnya, tapi cukup hadir dan mendukung para sineas supaya mereka tetap bisa berkarya..

Catat no wa nya untuk yang mau hadir disana 0819-3939-9000

Sampai ketemu di Surabaya, kita nanti bisa ngopi bersama.. Seruput…

Denny Siregar
www.baboo.id

Loading...

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *